Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2022

CERPEN BY MAYCA AL-AZIRA 7H

                                                Kearifan Lokal Budaya Sidoarjo


Sidoarjo adalah sebuah kecamatan yang juga merupakan pusat pemerintahan atau ibu kota dari Kabupaten Sidoarjo, yang berada di provinsi Jawa Timur. Saat ini, pada hari Minggu, Rara mengajak sahabatnya yang berasal dari Jogja yang bernama Lia untuk pergi berjalan-jalan ke tempat ikonik yang berada di Sidoarjo, yaitu Monumen Jayandaru. Monumen Jayandaru berdiri pada tanggal 29 Mei 2015. Tempat ini menjadi Ikon dan kebanggaan warga Sidoarjo. Rara dan Lia sudah berada di Monumen Jayandaru, pun pergi melihat lihat keindahan Monumen Jayandaru.

“Waww.... tinggi sekali! Itu berapa tingginya, Rara?” tanya Lia

“Iya betul, tingginya sekitar 25 meter”, ucap Rara

Monumen Jayandaru sangat indah. Patungnya sangat tinggi dan terdapat ikan bandeng, udang, dan padi yang berada di atas monumen. Dan ada juga tulisan aksara Jawa yang berbunyi “Monumen Jayandaru”. 

Selesai melihat-lihat mereka pergi keluar dan menemukan banyak pedagang makanan disana. Lalu Rara mengajak Lia untuk makan makanan khas Sidoarjo yaitu Lontong Kupang. Selesai makan mereka pergi ke tempat oleh-oleh Sidoarjo dan berencana membeli oleh-oleh untuk Lia karena dia besok akan kembali ke Jogja. Setelah selesai mereka langsung pulang ke rumah Rara. Lia sangat senang karena dapat mengetahui banyak kearifan lokal Sidoarjo. Lia sangat berterima kasih kepada sahabatnya, Rara, karena sudah mau mengajaknya berkeliling. Kearifan lokal Sidoarjo sangat beragam dan kita harus menjaga kelestariannya.

CERPEN BY MARITZA 8E

                                                                            BLOOD


           Malam menyapa, suara musik klasik terdengar nyaring di tempat tidurku,mawar tertata rapi,buku yang berserakan,dan aku yang sedang melihat langit gelap itu. Pintu yang mulanya tertutup menjadi terbuka menandakan seseorang masuk.

"Seharusnya kamu mengetuk pintu dulu, iya kan?"

"Maafkan aku."

"Baiklah, aku akan memaafkanmu."

"Hera, apa kau sedang bosan?"

"Sedikit."

"Mau berburu."

"Eumm… ide yang bagus Lily."


         Berburu itu hal yang sangat bagus, karena kami kaum vampir membutuhkan darah yang segar untuk dimakan. Tentu kita tidak boleh terlihat oleh manusia. Kita kaum vampir bagaikan kilat yang cepat. Jadi berhati-hatilah. Kami selalu berkumpul di hutan larang, seperti namanya hutan ini sangat terlarang dimasuki, siapapun yang masuk ke hutan ini harus mati. Tapi saat perjalanan berburuku dengan Lily terdengar suara manusia yang datang. 

"Hera,kamu dengar suara itu? Sepertinya manusia ada di sekitar sini."

"Iya aku juga dengar. Hahaha.... Dia ingin bunuh diri ternyata. Kau tahu? Siapa cepat dia dapat! Ayo lakukan itu! Hahaha...."

"Kau meledekku Hera? Tentu ayo lakukan. Aku selalu siap."

Seperti yang aku bilang kita secepat kilat. Siapapun yang mendapat manusia itu, dia yang menjadi pemenang. Beberapa waktu berlalu, aku menemukan manusia itu sedang bersandar di pohon, target sudah didapat. Aku berlari secepat kilat dan memegang lehernya. Dia terlihat tidak berdaya, sungguh menyedihkan. Tentu akhir mereka tragis, karena kami kaum vampir membutuhkan mereka untuk makan agar bertahan hidup.


         Pagi yang sangat cerah tiba. Aku membenci sinar matahari, mereka membunuhku. Jika aku ingin pergi tentu aku membutuhkan barang yang melindungi ku dari sinar matahari,barang itu bernama payung. Saat pagi hari aku selalu pergi menemui temanku yang bernama Gezel. Dia juga sama sepertiku. Tapi anehnya dia membuka toko roti. Saat aku bertanya kenapa dia membuka toko roti, dia hanya menjawab bahwa dia menyukai bau roti. Sungguh vampir yang aneh. Toko roti miliknya sangat besar bahkan lebih besar daripada toko-toko di sebelahnya. Toko itu ada di sebelah danau dan toko itu berwarna emas yang mencolok. Jika kau melihatnya pasti matamu langsung sakit. Sesampainya di sana, aku langsung membuka pintu. Dan ya dia menaruh lonceng di atas pintu. Aku benci lonceng itu. Aku selalu kaget mendengar suara loncengnya yang sangat nyaring.

"Gezel!!!!! Sudah berapa kali aku bilang jangan pasang lonceng itu di atas pintu! Itu membuatku kaget!."

"Dan Hera sudah berapa kali aku bilang jika lonceng itu pemberian pelanggan yang setia padaku? Jadi tolong jangan peduli."

"Pelanggan setia? Roti kamu aja tidak enak. Bagaimana bisa ada pelanggan setia?"

"Ssstttt!!!."

"Disini kenapa sepi sekali? Dimana pelanggan setiamu?"

"Mungkin di perjalanan."

"Oh ya, nanti ada pertemuan di hutan larang. Jangan sampai telat. Madam Mai membutuhkan kita."

"Iya, aku tidak akan lupa."

"Kalau begitu aku pergi dulu."

"Baiklah, sampai jumpa." 

"Sampai jumpa."

Seperti biasa tokonya selalu sepi, dia hanya menunggu pelanggan setianya yang sudah meninggal itu. Dia lupa pelanggannya seorang manusia. Apa mungkin dia jatuh cinta? Menjijikkan, hahaha.


         Malam menyapa, waktunya berkumpul dengan seluruh vampir di hutan larang. Agak aneh, kenapa Madam Mai menyuruh kita berkumpul? Aku harap tidak terjadi apa-apa. Saat aku sampai di hutan larang banyak sekali vampir yang datang. Ada kalanya aku merasa takut melihat mereka. Aku hanya bisa menyapa mereka dengan kata halo, tapi mereka selalu menganggapku aneh. Madam Mai datang dengan jubahnya yang berwarna merah dan rambut hitam yang tergerai dengan sangat cantik, wajahnya yang sangat putih pucat dan cantik. Umurnya sudah 200 tahun tapi dia tetap awet muda. Itulah kami, meskipun umur yang sudah lebih dari umur normal, kami tetap muda seperti umur 20 tahun. Pertemuan dimulai.

"Terimakasih kalian sudah datang. Ada hal yang sangat penting yang harus aku bicarakan." Wajahnya saat itu terlihat sangat sedih.

"Apa kalian semua tahu tentang salah satu kaum kita yang terbunuh?"

"Apa?? Tunggu, siapa?" tanya seorang wanita yang bernama Ley.

"Ketua kaum Hez terbunuh. Aku sebenarnya belum tahu siapa yang membunuhnya. Apa manusia yang membunuhnya?"

Di hutan itu sangat ramai karena ada seseorang yang terbunuh dari kaum Hez. Anehnya kaum Hez ada di tengah hutan larang. Bagaimana bisa manusia masuk ke hutan itu? 


         Peraturan baru dibentuk, seluruh kaum vampir akan berjaga setiap hari. Kami berharap, manusia itu segera ditangkap. Kebetulan aku berjaga di kawasan Hez. Aku hanya berjalan memutari seluruh istana Hez sampai pagi tiba. Tentu aku tidak sendiri. Aku ditemani Lily dan Gezel, temanku. Kami terus berbicara agar tidak terasa bosan. Bercanda dan tertawa itu membuatku lebih baik. 

"Sebentar, kalian lihat itu?"

"Apa? Ada apa Lily?"

"Itu seperti peluru?" 

"Gezel, kau tahu bagaimana bentuk peluru?"

"Iya, aku kan bekerja di kota. Tentu aku tahu."

"Apa tuan Hez terbunuh karena peluru?"

"Itu bisa saja terjadi."


         Malam itu banyak burung berkicau tanpa henti. Angin berhembus sangat kencang, pohon tumbang, dan bebatuan yang terus berjatuhan. Suasana mencekam membuat kami semua takut.

"Tunggu ada apa ini?" tanya Lily dengan raut wajah terlihat takut.

"Aku tidak tahu kenapa anginnya semakin kencang?"

Seseorang datang dengan jubah berwarna hitam bersama dengan anak buahnya. Mereka juga membawa tongkat Tuan Hez. Siapa dia? Apa dia yang membunuh Tuan Hez? Pertanyaan itu datang begitu saja di kepalaku.

"Hera, Gezel apa kita akan mati? Aku belum siap."

"Lily tenanglah! Kita harus cepat pergi dari sini."

"Oke! Hera, Lily aku akan berusaha melindungimu."

"Gezel, kekuatanmu belum cukup."


        Seseorang berjubah hitam semakin mendekat sambil mengayunkan tongkatnya. Kami hanya bisa mundur dan mundur tanpa melakukan apapun. Kekuatan kami belum cukup untuk melawannya. Bahkan tongkat Tuan Hez ada di tangannya. Tongkat itu terlalu kuat. Mereka semakin mendekat dan mengarahkan tongkat itu sambil mengucapkan mantra kuno. Kami hanya bisa terdiam dan menunggu apakah kita akan mati atau tidak. Siapa mereka? Apa mau mereka? Kenapa mereka membunuh Tuan Hez? Aku akan segera mencari tahu itu semua dan menangkap mereka. Mereka tidak layak disini.


Senin, 07 Februari 2022

Kasih Sayang Adalah Segalanya

CINDY JULIANI

8E  

    “Kasih Sayang Adalah Segalanya”      


Huuurr………huuurr……. 

Brak……..brak………….. (bunyi jendela tertiup angin)  


Pada malam hari Roni duduk sendirian dengan perasaan gundah di kamarnya yang gelap. 

Setiap malam Roni mendengar pertengkaran ayah dan ibunya sehingga membuat Roni 

amat sedih dan berdampak pada kepribadiannya. Di sekolah Roni dikenal sebagai anak

yang pendiam sehingga dijauhi oleh teman-temannya. 

Pagi hari Roni bangun tidur dan bersiap untuk berangkat ke sekolah yang diantar oleh 

ibunya.

Setelah sampai di sekolah Roni mencium tangan ibunya dan melambaikan tangannya.

“Dadah Mama!!”, ucap Roni sambil jalan.  


Sesampainya di sekolah, Roni langsung menuju kelas dan mengambil kursi paling 

belakang. Ia selalu saja tidak fokus belajar di kelas. Ia selalu menjahili, mengganggu

dan membuat suasana gaduh di kelas sehingga membuat ia dijauhi oleh 

teman-temannya karena sikap nakalnya itu.  

Pada hari Rabu waktu jam olahraga telah tiba.

Pagi itu ibu guru meminta pelajaran olahraga praktik melempar bola di lapangan. 

Pelajaran olahraga adalah pelajaran favorit Roni, apalagi jika belajar di lapangan. 

Sehingga ia sangat antusias dan langsung bergegas menuju lapangan.  

Sesi melempar bola pun di mulai hingga ………….. 

Duk!!! suara bola menghantam kepala temannya. Ia tidak sengaja menendang keras 

bola sehingga mengenai kepala temannya.  


Roni merasa bersalah dan pergi ke pojok taman. Ia membenturkan kepalanya ke pohon 

berkali-kali sambil berkata.

“Maafkan aku…….maafkan aku…” gumam Roni.  

Setelah kejadian di lapangan tersebut, orang tua si anak tadi mengetahui bahwa anaknya 

terlempar bola sehingga marah-marah pada guru dan langsung pergi dengan nada kesal.  

Lalu ibu guru mulai mencari keberadaan Roni dengan khawatir. Ia sesekali menanyai 

keberadaan Roni pada teman-temannya.  

“Dimana Roni?” tanya bu guru kepada anak-anak.

“Di taman bu….” Jawab anak-anak serempak.

Ibu guru langsung bergegas menuju taman melihat roni sedang membenturkan kepalanya 

di pohon sambil menangis. Bu guru menarik Roni dan membawanya ke ruang guru.  

“Ini, minum dulu, Roni.” Ucap bu guru kepada Roni sambil menyodorkan

 segelas air.

“Baik bu.” ucap Roni sambil mengusap air matanya.

Bu guru tidak tega melihat Roni lalu menelpon orang tuanya untuk datang ke sekolah.  

Ibu roni langsung datang dan berbincang dengan bu guru untuk menanyakan apa 

yang terjadi.

“Bagaimana ibu guru? Apa yang terjadi pada Roni?” tanya ibu Roni kepada bu 

guru dengan nada khawatir.

Ibu guru menceritakan kejadian yang sebenarnya lalu menyuruh Roni dan ibunya pulang. 

Keesokan harinya, ibu Roni dipanggil oleh sekolah untuk mengkomunikasikan 

kepribadiaan Roni yang kian hari makin meresahkan. 

Ibu roni dan ibu guru berbincang 

“Bagaimana ibu? Apa yang sebenarnya terjadi dengan anak saya?”  tanya ibu 

Roni kepada bu guru.

“Roni sebenarnya anak yang baik ibu, namun saya bingung kenapa Roni sangat 

tidak fokus belajar” ucap bu guru menjelaskan kepada ibu Roni

“Haaaa…..?” ibu Roni sangat kaget mendengar hal itu. 

“Padahal di rumah Roni anak yang rajin, belajar tepat waktu dan penurut ibu. 

Tetapi memang Roni anak yang pendiam bu, dia sering menyendiri di kamar” 

cerita ibu Roni.

“Apakah ayah Roni tidak pernah bermain dengan Roni bu?” 

“Tidak. Semua urusan rumah tangga dan anak, saya sendiri yang kerjakan bu, 

karena ayahnya sibuk bekerja”, terang ibu Roni.

“Apakah itu yang mempengaruhi sikap Roni, ibu?” 

“Bisa jadi bu, kadang-kadang saya juga bertengkar dengan ayah Roni di depan 

Roni dan sepertinya itu membuat ia murung”, ibu Roni menjelaskan.

“Sebaiknya diskusikan pada ayah Roni mengenai sikapnya pada Roni sehingga

menyelesaikan permasalahan”, saran bu guru kepada ibu Roni.

“Baik ibu”, ibu Roni mengiyakan.

Perbincangan tersebut berisikan solusi bagaimana mendidik anak dengan baik dengan 

memberikan motivasi belajar, lingkungan yang mendukung dan kasih sayang dari orang 

tuanya. Ibu Roni berterima kasih kepada bu guru. Kemudian ibu Roni bergegas pulang 

dan menunggu ayah Roni pulang bekerja untuk mendiskusikan sikap Roni.  


Setelah Roni tertidur, ibu Roni berbicara hangat dengan ayah Roni. Ia menceritakan 

bagaimana sikap Roni di sekolah. Setelah mendengar penjelasan dari ibu Roni, ayah 

Roni menjadi sedih. Ia sangat bersalah menjadi seorang ayah. Setelah 

berbincang-bincang tentang hal tersebut, orang tua Roni mencari solusi agar anaknya 

menjadi anak seperti anak yang lainnya.  

Bertepatan dengan hari ulang tahun Roni pada hari Minggu besok, orang tua Roni 

ingin memberi kejutan kepada anaknya. Mereka ingin merayakan ulang tahun Roni 

di sekolah bersama teman-temannya. Dengan membawakan kue kesukaan Roni, 

balon-balon dan topi ulang tahun.  


Hari ulang tahun Roni tiba, Roni tiba-tiba teringat jika ia berulang tahun. Namun ia

merasa sedih karena orang tuanya tidak mengucapkan selamat ulang tahun.   

Setelah sampai disekolah  

“Haaaaaaa………” Roni terkejut.

Orang tua dan teman-temannya berkumpul dan memakai topi ulang tahun serta ada 

kue ulang tahun yang lezat dan dinding dihiasi balon ulang tahun. Mereka serentak 

menyanyikan lagu ulang tahun untuk Roni. Kemudian memotong kue dan berfoto 

bersama untuk mengabadikan momen. 


Kasih sayang dari orang tua dan lingkungan sangat penting dalam tumbuh kembang 

anak.  


Jelang Pembagian Rapor SMP Negeri 1 Porong Adakan Class Meeting

 

Jelang Pembagian Rapor

SMP Negeri 1 Porong Adakan Class Meeting


Setelah menyelesaikan UAS, siswa disibukkan dengan kegiatan akhir semester dengan 

perlombaan antarkelas atau yang biasa disebut class meeting. 


Ketua panitia kegiatan, Sulami Miftah mengatakan bahwa untuk mengisi waktu jeda siswa, 

class meeting ini diadakan serta bertujuan untuk menggali minat dan bakat siswa SMPN 1 

Porong di bidang seni dan kebersihan. “Tujuan utama class meeting ini untuk mengisi 

waktu luang setelah ulangan, menggali minat serta bakat siswa dan meningkatkan minat 

baca literasi,” katanya.


Class meeting kali ini mengusung tema “Generasi Literasi Yang Bebas Narkoba, 

Berwawasan Go Green dan Ramah Anak”. Ada dua jenis perlombaan yang harus 

diikuti oleh seluruh siswa kelas 7, 8 dan 9 yaitu lomba membuat poster, lomba 

kebersihan dan keindahan kelas.


Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 14 s.d. 18 Desember 2021. Pelaksanaannya di 

area kelas masing-masing. Untuk lomba poster, setiap siswa diberi kertas A3 yang 

berstempel OSIS dan dipersilakan menggambar sesuai tema. Pengerjaan dibagi 2 hari

tiap kelompok A dan B. Setiap siswa wajib aktif dalam kegiatan ini.


“Pemenang lomba akan dipilih 3 juara umum, 3 terbaik poster akan dipajang dan 

tentunya diberi hadiah,” jelasnya. Jadi, kegiatan ini sangat penting untuk siswa-siswi 

sebagai sarana hiburan dan memperkuat hubungan antar kelas.

Berikut dokumentasi kegiatan :


HARI IBU

 

 

CINDY JULIANI 

8E/9 


HARI IBU 



“Kukuruyukkkk…..krukkrukk.....” 

Suara ayam jago berkokok menandakan pagi akan segera terbit. Di sisi lain ada keluarga 

yang hidup di tengah keterbatasan. Tepatnya di pesisir pantai hiduplah seorang ibu tua dan 

putranya bernama Elang. Ibu Elang memanglah tidak muda namun keinginannya bekerja 

untuk menyambung hidup sangat gigih. Sehari-hari ibu bekerja sebagai penjual ikan yang 

dikulak dari nelayan setempat. Ini ia lakoni agar Elang tetap bisa sekolah dan sama seperti 

teman-temannya. Ibu Elang seorang single mother yang tangguh karena beberapa tahun lalu 

ayah Elang pergi melaut dan tak pernah kembali.


(Flashback) 

“Ibu, bapak pergi dulu ya, ibu di rumah hati-hati jaga Elang, nanti ketika bapak 

pulang mari kita ke pasar membeli apapun yang ibu dan Elang suka!!!” 

“Pak, cuaca saat ini sedang tidak baik untuk melaut, ibu tidak setuju bapak 

pergi sekarang, besok saja pak.” 

“Tidak ibu, kita harus segera mengumpulkan uang untuk biaya sekolah Elang. 

Bapak tidak apa-apa, jadi ibu tenang saja ya. Bapak berangkat dulu.” 

Sejak saat itu bapak Elang tidak pernah kembali, namun ibu dan Elang tetap menunggu. 

Pagi-pagi ibu ke dermaga terlebih dahulu untuk mengulak ikan dari nelayan kemudian 

bergegas pulang untuk mengantar Elang ke sekolah dan langsung menuju pasar untuk 

berjualan.

“Kring-kring-kring” (suara bel ibu sampai rumah) 

“Elang, bangun nak!! Ayo siap-siap berangkat sekolah.”  

“Sebentar ibu, Elang masih mengantuk.” 

“Ayo nak, mari berangkat ibu sudah siapkan sarapan ya” 


(Di sekolah) 

“Ibu, Elang berangkat, dadaaaaah ibuuu.” 

“Dah nak sekolah yang rajin yaa.” 

“Baik ibu.” 

Ibu berangkat ke pasar dengan terburu-buru untuk mengejar para pelanggan. 

“Ikan segar, ikan segar. Ibu, mari dibeli ikan segar saya bu.” 

Siang hari berlalu namun dagangan ibu belum laku satu ikan pun. Di sisi lain bel 

berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba. 

“Ting-ting-ting….horeeeeeeee” (sorak anak-anak antusias pulang) 

Elang bergegas pulang ke rumah, karena ibu hanya mengantar Elang berangkat sekolah 

saja sehingga Elang harus pulang sendiri. Elang adalah anak yang memiliki sifat baik dan 

sadar akan kehidupannya bersama ibunya sehingga tidak menuntut banyak hal. 


(Hari-hari berlalu) 

Suatu pagi di sekolah, ibu guru menerangkan bahwa hari ibu akan tiba tepat tanggal 

22 Desember. Sontak kelas menjadi gaduh karena kegembiraan murid-murid yang

 antusias menyambut hari ibu. 

“Horee…….bagaimana ini? Aku bingung mau bawain apa buat ibuku?” 

“Haaa kalau aku sih udah pasti bunga, karena ibu suka sekali dengan harumnya, 

dan aku akan membeli yang paling mahal.”


Ibu guru langsung menanyai Elang.

“Anak-anak diam sedikit, Elang bagaimana denganmu? Apa sudah memikirkan 

sesuatu yang akan diberikan kepada ibumu?” 

“Iiiiyaaa ibu, saya sedang memikirkannya.” 

“Ya sudah mari kita lanjut chapter 5 ya anak-anak.”


(Bel pulang berbunyi) 

Seperti biasa Elang pulang berjalan kaki dan mulai merenung tentang hadiah apa yang

pantas diberikan pada ibunya. Terlebih Elang tidak mempunyai uang saku. Sesampainya 

di rumah, Elang berganti baju dan makan siang yang sudah disiapkan ibunya. 

“Kring-kring..... ibu pulaanggggg.” 

“Ibuuuuuuuuuuu,” jerit Elang.

“Apakah sudah makan nak? Gimana tadi sekolahnya? Sebentar ibu akan masuk” 

“Iya bu, lancar.” 

“Sini, duduk di pangkuan ibu.” Saat ibu meminta Elang duduk di pangkuan 

ibunya, Elang melihat kaki ibu yang mengapal dan kasar. Sontak Elang bertanya.

“Ibu, mengapa kaki ibu? Apakah sakit?” 

“Tidak nak ini hanya luka dan kasar biasa. Besok juga sembuh “ 

Malam tiba sembari Elang berfikir mungkin karena ibu memakai sandal yang sudah usang. 

Keesokan paginya Elang berangkat bersama ibunya seperti biasa namun ia melihat ada 

nelayan rumput laut yang membutuhkan pekerja. Maka sepulang sekolah ia bergegas 

ke pedagang tersebut tanpa memberi tahu ibunya  

“Bapak….apakah benar bapak membutuhkan pekerja?” 

“Iya benar dek, memangnya ada apa?” 

“Itu bapak, saya hendak menjualkan rumput lautnya.” 

“Benar kah itu? Apa kau tidak capek pulang sekolah?”  

“Benar bapak.”  

“Ya sudahlah, jika seperti itu kamu jaga kios ini bapak akan lihat berapa banyak 

yang beli rumput lautnya.” 

Ternyata rumput laut yang dijual Elang laris manis dan berlipat keuntungan.

“Wahh hebat kamu nak laris manis rumput lautnya, ini upah buat kamu. Besok 

datang lagi atau tidak?” 

“Insyallah datang bapak. Elang izin pamit pak, takut ibu khawatir” 

Elang terburu-buru pulang dan seolah tidak terjadi apa-apa karena memang ibu pulang 

petang dan terjadi perbincangan seperti biasa untuk menambah kedekatan antara ibu dan 

anak. Setiap hari Elang tetap melakukan pekerjaan ini hingga uang yang ditentukan 

terkumpul dan tiba saatnya Elang pergi ke pasar untuk membelikan ibunya sandal yang 

bagus. Namun tak lupa Elang berterima kasih dan berpamitan pada bapak nelayan yang 

telah memberinya pekerjaan. 

“Buu, ini berapa?” 

“Oh ini 50 ribu dek” 

“Baik ibu saya ambil, terimakasih bu” 

Sesampainya di rumah, Elang membungkus dan mempersiapkan hadiah terbaiknya untuk 

ibunya besok di hari ibu. Pagi-pagi Elang menyisipkan hadiahnya di samping tidur ibu. 

Hingga tiba-tiba ibu menangis terharu.  

“Nak apakah ini kau yang memberikan?” tanya ibu sambil tersedu.

“Hehehe benar ibu. Ibu jangan menangis. Pasti ibu tidak suka hadiahnya yaa?” 

“Tidak, hadiah ini sangat bagus nak. Ibu sangat suka sandal ini, cocok dengan ibu.” 

Elangpun menceritakan proses yang ia lalui hingga bisa membelikan sandal untuk ibu. 

Hari-hari berlalu, Elang dan ibunya semakin bahagia. 


---Hari ibu adalah hari mengenang jasa ibunda yang sudah mengandung, melahirkan dan 

membesarkan dengan penuh cinta. Maka tidaklah bijak jika perspektif hari ibu sekedar 

simbol pemberian hadiah dan ucapan selamat, namun bisa dimulai dengan menanyakan 

kabar ibu dan belajarlah memberikan kehormatan dan kemuliaan pada kedua orang tua 

melalui hal kecil---