Rabu, 01 Desember 2021

Tips Belajar

 


Quotes

 

HUJAN

 


SANDWICH

 Sudah tiga hari ini aku memilih diam dan menghindar dari papa. Bukan karena uang jajanku dikurangi. Aku mahasiswa semester akhir di universitas ternama di Indonesia. Uang bagiku bukan hal yang begitu penting. Karena aku percaya ketika kita berbuat baik uang akan datang dengan sendirinya. Aku adalah Mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial yang aktif di organisasi kampus BEM. Demo adalah kegiatanku sehari-hari. Karena bagiku banyak hal-hal yang belum jelas di Indonesia dan harus diperjelas. Kami mempelajari banyak hal yang orang tidak pelajari, mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui dan menyuarakan apa yang orang lain rasakan. Sebagai mahasiswa aku perlu melakukan itu karena kalau bukan kami, siapa lagi yang akan menyuarakan hak-hak yang hampir dilucuti oleh para penindas. Siapa yang akan membuka pikiran rakyat yang hampir terparadigma oleh tikus-tikus yang duduk-duduk dibalik meja DPR.

Aku bukan tipe perempuan yang gemar menonton televisi, hanya saja akhir-akhir ini ada berita yang membuat aku harus mengikutinya setiap hari dan melakukan pengawasan. Aku tidak seperti biasa melakukan hal ini, biasanya setelah aku menonton sehari aku akan mengamati titik kesalahan dari kebijakan yang dibuat oleh petinggi negeri setelah itu melakukan pembenahan dan menyuarakannya dengan jalan demo. Setelah tugas untuk menyuarakan hak-hak selesai, aku akan mematikan televisi dan kembali menekuni skripsi yang tengah aku kerjakan. Sebagai mahasiswa akhir, skripsi bukan halangan bagi kami untuk berhenti menyuarakan hak. Justru, semakin tinggi tahun kuliah kami, maka semakin berat pula beban untuk membukakan mata masyarakat Indonesia.

Berita tentang reklamasi jakarta beberapa hari terakhir menjadi trending topik di berbagai TV swasta, bukan karena aku tinggal di sekitar daerah reklamasi. Aku tinggal di pusat kota dan tidak ada dampak berarti seperti para nelayan yang tinggal di daerah itu. Tapi karena papa adalah salah satu orang yang ikut terlibat di dalamnya, meskipun aku lega papa bukan termasuk orang yang ikut terseret dalam kasus perusahaan properti ternama di Indonesia. Tapi tetap saja papa adalah pihak yang mendukung adanya reklamasi. 






Aku melihat papa muncul di layar kaca sebelum aku pergi untuk beraksi di Gedung Balai Sarbini dengan rekan mahasiswa lain. Papa juga berkomentar tentang dampak positif reklamasi jakarta yang sedang menjadi trending topic dan sontak saja komentar papa membuat teman-temanku tersulut emosi dan mengatakan bahwa statement itu hanya menguntungkan warga mengengah atas.

Papa adalah salah satu pejabat dari salah satu partai ternama di negeri ini, aku percaya bahwa papa bukan salah satu dari tikus-tikus yang ikut menggerogoti hak rakyat karena sejauh ini penghasilan terbesarnya justru bukan berasal dari gedung DPR melainkan dari bisnis properti papa dan mama yang akhir-akhir ini mulai dilirik oleh sebagian orang dan dianggap bahwa properti adalah bisnis yang menguntungkan.

Aku ingat pertama kali papa masuk ke dunia politik adalah keinginan kakek sebelum meninggal. Sebenarnya papa tidak ingin menjadi salah satu di antara mereka karena bagi papa politik itu kejam. Papa berulang kali mengatakan itu kepada Aku dan Orion, kakakku. Papa pernah berkata bahwa “Jangan pernah menjadi anggota partai politik sebelum gajimu melebihi gaji anggota politik karena itu hanya akan membuat kamu gelap mata”

Dan semua mindset baik tentang papa tiba-tiba hancur saat melihat papa menyuarakan apa yang tidak ingin aku dengar.


“Athena mau berapa lama kamu mau makan di kamar? Kamu tidak berniat mencari perhatian mama kan?” statement mama membuat aku akhirnya keluar dari ruang meditasiku dan ikut bergabung dengan papa di meja makan.

 “Sudah selesai meditasinya?” aku hanya melirik pria berkumis yang duduk di depanku.

“Kalau bukan mama yang meminta, aku juga tidak akan mau makan dengan orang yang tertawa di atas penderitaan orang lain” jawabku dengan sedikit sengit

“Kamu mau sandwich isi apa sayang?” nada halus mama membujukku

“Biasanya ma” nadaku sedikit meleleh

“Sandwich daging tanpa telur?” aku mengangguk mengiyakan.

Papa hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ada di pikiran papa. Mungkin dia merasa menang atau menganggap aku hanya bocah yang hanya ikut-ikutan.

“Papa tidak ingin berdebat dengan gadis kecil papa pagi-pagi seperti ini” papa berusaha mengajaku berbicara tetapi sia-sia, aku tetap tutup mulut sambil memutar-mutar makanan di piringku.





“Athena, bisakah kamu tidak memutar makanan?” aku selalu tidak bisa membantah mama, kalau saja bukan mama yang meminta aku tidak akan mau semeja dengan papa.


“Dek, makan gih! Lagian kamu ini kenapa sih, abang ngga paham sama kamu dan juga... sama papa. Urusan begituan tuh, ngga usah dipikir terlalu dalem! Buang tenaga” Orion mulai menyebalkan. Aku selalu tidak suka dengan intonasi bicaranya yang sarkastik. Aku yakin intonasi itu didapatkan dari papa. Untung saja kakakku itu tidak masuk di jurusan politik, jadi aku selalu bisa mematahkan segala statement yang sebenarnya masuk akal hanya saja dia tidak paham. Setelah lulus SMA dia lebih memilih untuk masuk di kedokteran sesuai saran mama dan akhirnya dia menuruti. Berbeda denganku yang dari awal bersikukuh untuk masuk ke salah satu jurusan dari fakultas sosial dan politik. Papa berulang kali melarangku tapi mama selalu bijaksana memberikan keputusan akhir kepada anak-anaknya.

“Papa kenapa jadi begini?” aku memulai pembicaraan dan berharap papa tidak benar-benar atas statementnya tempo hari.

“Begini apanya?” papa selalu menanyakan pertanyaan yang sama dan hal itu selalu membuatku malas.

“Ya papa kenapa sekarang malah mendukung kebijakan yang tidak terarah, bukannya papa dulu adalah orang yang antiberkomentar mengenai segala bentuk kebijakan” aku mulai berceloteh panjang dan papa tetap saja hanya menyunggingkan senyum.

“Athena... Reklamasi Teluk Jakarta itu adalah kebijakan yang benar menurut papa” papa melahap sesendok nasi dan mulai melanjutkan diplomasi nya “banyak hal-hal yang tidak kamu sadari, banyak dampak positif yang sebenarnya kamu tahu papa yakin cuman kamu tidak berani membenarkannya”

“Dampak positif apa? Athena tidak melihat adanya dampak positif dari Reklamasi Teluk Jakarta” aku tidak mau kalah begitu saja dengan papa, aku harus tetap membuat papa berada di pihakku dan menarik semua statementnya.

“Coba sekarang papa ingin tahu, apa alasan kamu tidak mendukung Reklamasi Teluk Jakarta?” papa mulai berbicara serius, wajahnya tidak lagi banyak menyunggingkan senyum dan ini artinya aku sudah mulai berhasil mengubah pikiran papa.

Atleast ada 17 alasan kenapa aku tidak menyetujui apa yang papa setujui” mama dan Orion hanya menatap kami berdua tidak percaya “ok pertama, papa sudah mengambil pekerjaan atau lahan para nelayan, kedua papa sadar ngga kalau adanya reklamasi itu bakal bikin ikan-ikan di sana mati?” aku menunggu papa berkomentar.




“Lalu apalagi?”

“Ketiga pencemaran ekosisten dan masih banyak lagi” aku menyudahi alasan diplomatisku dan menunggu papa berbicara

“Sebelum itu papa ingin bertanya, kamu menyalahkan kebijakan pemerintah karena kamu memang yakin itu salah kan? bukan karena kamu harus mencari kesalahan mereka kan?” 

“Tunggu, kenapa papa jadi berbicara seperti ini, kenapa papa mulai menyudutkan aku”

 “Mama kamu memberi kamu nama Athena itu bukan untuk memperjuangkan apa yang bukan seharusnya diperjuangkan loh ya” 

“Kenapa papa jadi membawa bawa namaku, papa tidak berpikiran bahwa aku hanya ikut-ikutan kan.

“Mm..... ya... memang karena bagiku kebijakan mereka salah. Kebijakan mereka harus diawasi dan masyarakatlah yang mengawasi” aku menjawab dengan cukup yakin


“Pertama, kamu harus tau bahwa sebelum kamu memikirkan semua kekurangan itu pemerintah sudah selangkah lebih maju daripada kamu, nelayan tidak ada yang berlayar ke teluk kotor seperti itu, kalau memang ada pasti warga jakarta sudah kaya raya. Toh faktanya teluk itu tidak ada kegiatan berlayar seperti yang kamu tau” aku mulai mengangkat alis “kedua mengenai ikan, tidak ada ikan yang hidup di teluk sekotor itu. Jadi kamu dan teman-temanmu tidak perlu khawatir soal itu. Dan soal ekosistem, kamu tahu banyak negara yang sudah melakukan reklamasi dan banyak dari mereka berhasil”


“Aku sudah membacanya tapi papa kan tahu resiko negatifnya lebih banyak daripada positifnya”

“Kamu lupa papamu ini pebisnis properti” aku mulai tidak mengerti arah pembicaraan papa “reklamasi bisa sangat menguntungkan papa sebagai pelaku bisnis, harga properti akan sangat tinggi! Apalagi mengingat tempatnya di pinggiran laut, papa sudah berencana akan membangun resort”

“Dan reklamasi hanya menguntungkan kalangan atas” aku baru sadar bahwa posisi papa sebagai anggota partai hanya dijadikan batu loncatan untuk bisnisnya. Aku tidak habis piker.

“Kamu  pikir  jika  reklamasi  dihentikan,  apa  bisa  menguntungkan  kalangan  bawah?

“Sejauh ini bagaimana yang kamu lihat?”




“Lalu sebenarnya bukankah kalangan bawah adalah prioritas utama pemimpin daerah” papa kembali tertawa di antara kunyahannya “reklamasi hanya untuk menyejahterakan kalangan atas agar bisa menjual properti mereka dan kalangan bawah semakin tidak bisa mendapatkan tempat tinggal layak”


“Memangnya sebelum reklamasi apa mereka sudah tinggal di tempat yang layak?” aku tidak menyukai perdebatan ini, tapi aku belum puas dengan papa “menurutmu apa lebih baik jika tidak menyejahterakan kedua kalangan? Kamu pikir kamu sekarang bisa makan karena apa? karena hasil bisnis properti papa dan mama Athena.” 

Aku melihat mama menepuk bahu papa dengan lembut, papa mulai tersulut kemarahan. Oke, aku tidak akan memperpanjang ini

“Paaa......”

“Inilah alasan kenapa papa tidak suka kamu masuk di kuliahmu sekarang, atas dasar apa kamu memikirkan kepentingan orang lain tapi tidak dengan keluargamu. Kamu pikir pajak terbesar negaramu dari kalangan mana? negaramu bisa membangun seperti ini juga kurang lebihnya karena mereka sogokan para kalangan elite dan semua infrastuktur kamu pikir cuman kalangan elite yang menikmati? apa itu belum bisa dikatakan sebagai menyejahterakan kalangan yang katamu harus diperjuangkan?”

“Ini bedaa paa”

 “Beda apanya? Kamu terlalu terdoktrin dengan skeptis bahwa kebijakan pemerintah harus selalu dibenarkan selalu harus dikawal. Kalian para mahasiswa tau apa soal kebijakan ekonomi pemerintah. Coba kamu tanya mamamu yang seorang ekonom” mama hanya tersenyum sambil menepuk bahu papa


“Mama memberi kamu nama Athena berharap kamu bisa menjadi bijaksana tapi bukan hanya melihat ke satu sisi sayang, kamu terlalu fokus pada doktrin menyejahterakan masyarakat kalangan bawah, tapi kamu sendiri tidak membandingkan kondisi sebelumnya. Pemerintah membuat kebijakan pasti tidak hanya negatif, kamu pernah berfikir seandainya reklamasi itu terealisasi akan banyak resort, akan banyak hotel terbangun dan kamu tidak sadar bahwa hal itu akan menyerap tenaga kerja, bukankah itu sudah cukup seimbang?” mama tersenyum sambil meninggalkan kami semua ke dapur. Aku tetap tidak bergeming dengan pendapatku bagiku untuk saat ini tidak ada alasan yang tidak bisa kupatahkan, sekalipun itu mama.




“Ada banyak alasan kenapa reklamasi itu benar-benar tidak baik pa” aku mulai menjelaskan satu per satu alasan “pertama, reklamasi itu sama dengan proyek orde baru. Sebab, kebijakan reklamasi dilakukan tanpa partisipasi dan konsultasi dengan masyarakat, serta tanpa adanya perhatian pada nelayan dan lingkungan hidup. Kedua, pembangunan yang berlebihan hanya memperparah bencana ekologis, seperti banjir rob di sepanjang teluk Jakarta. Ketiga, merusak lingkungan hidup yang ada di kawasan Teluk Jakarta. Keempat, kebutuhan pasir laut yang besar untuk reklamasi merusak ekosistem laut yang diurugnya. Kelima, proyek reklamasi dapat menghancurkan Jakarta sebagai ibu kota negara yang menjadi kawasan strategis nasional. Keenam, reklamasi itu rekayasa lingkungan yang merusak lingkungan dan ekosistem alamiah di Teluk Jakarta. Ketujuh, Pertumbuhan karang di Pulau Seribu pun akan terganggu akibat tekanan bahan pencemar dan sendimen. Ditambah lagi ada perubahan arus yang semakin meningkat akan menghantam pulau-pulau kecil di Pulau Seribu. Delapan, merusak tata air wilayah pesisir. Sebab, reklamasi menambah beban Sungai Jakarta di saat musim hujan. Jika air sungai terhambat keluar, akan menyebabkan penumpukan debit air di Selatan. Sembilan, kawasan hutan mangrove di Muara Angke yang sejatinya sebagai habitat alami yang di dalamnya terdapat binatang akan terancam akibat tanggul laut menambah tekanan pada hutan tersebut. Lalu, situs sejarah kota Jakarta sebagai kota bandar dengan pulau-pulau bersejarahnya di sekitar Teluk Jakarta akan tergerus dan hilang. Pelabuhan Sunda Kelapa misalnya, akan terancam dengan keberadaan 17 pulau reklamasi yang direncanakan Pemprov DKI itu. Sebelas, reklamasi mengancam obyek vital nasional. Misalnya saja Pulau G yang merusak kabel pipa dan kabel gas bawah laut serta PLTU Muara Karang yang menjadi suplai listrik ibukota Jakarta. Selanjutnya, proyek reklamasi hanya diperuntukan bagi kalangan ekonomi atas saja karena harga properti yang akan dijual itu bisa mencapai miliaran rupiah. Tiga belas, Pemprov DKI Jakarta seharusnya melakukan restorasi, bukan reklamasi yang akan menambah kerusakan dan pencemaran laut, baik selama proses pembangunannya maupun proses berjalannya pulau-pulau reklasi itu. Empat belas, reklamasi 17 pulau akan mengganggu aktivitas kapal dari total 6.000-an kapal nelayan dan mengurangi keberadaan pangan, khususnya ikan yang ada di DKI Jakarta. Lima belas, perairan Teluk Jakarta pasca proyek reklamasi yang ditambah dengan Giant Sea Wall akan menjadi comberan raksasa yang menyebabkan kematian ikan dalam skala besar. Dan yang terakhir, reklamasi hanya akan menjadi perumahan dan pusat komersial. Tak ada capaian besar ataupun urgensi ekonomi. Padahal biaya sosial dan lingkungannya itu sangat tinggi”





Aku langsung meninggalkan meja makan dan menuju kamar setelah menjelaskan panjang kali lebar, aku cukup yakin dengan alasan kuat yang aku buat agar papa sadar bahwa semuanya tidak hanya urusan pribadi saja yang dipikirkan. Aku maklum karena papa dan mama adalah orang-orang lulusan ekonomi bukan politik sepertiku. Aku kembali ke kamar dan sibuk dengan chat grup line dan membahas tentang demo selanjutnya dengan mahasiswa lain.

“Dek..” Orion tiba-tiba masuk, entah tidak ada angin tidak ada hujan, ia masuk ke kamar dan duduk di sebelahku


“Kenapa? Mau ceramah lagi?” aku yakin motifnya mendatangiku adalah untuk mendamaikanku dengan papa, tapi ya silahkan dicoba. Tidak akan ada yang bisa lagi untuk membelokanku, statement apapun akan aku patahkan


“Kamu tuh, sama papa sendiri musuhan dosa kamu!” aku hanya memasang wajah datar karena aku sedang tidak ingin bercanda ala-ala adik kakak “pernah gak sih Dek kamu mikir ya berandai-andailah, misalkan papa bangkrut dan udah ngga bisa lagi ngebiayain kita semua?” aku mulai tidak mengerti arah pembicaraanya “kamu tuh posisinya cuman jadi anak, belom jadi orang tua. Kamu ngga bakal ngerti susahnya bangun usaha, jatuh bangunya buat bertahan, yang kamu tau kan cuman papa usahanya lancar gitu doang. Hidup tu ngga sesimple apa yang kamu dan orang-orangmu pikirin. Papa tuh berusaha berjuang buat kamu, eh kamunya ngga tau diri malah berjuang buat orang lain dan ngejatuhin papa sendiri” dan entah kenapa tiba-tiba aku merasa bersalah dengan papa. Sumpah deh, Orion bikin pikiranku ke mana-mana.


“Kamu tuh ngomong apaan sih Kak!” aku berusaha mengalihkan pembicaraan dan berpura-pura tidak mengerti


“Aku ngga berusaha buat belokin pikiranmu, cuman sekadar ngingetin aja sih, kalo hidup tuh juga semuanya bukan tentang kamu dan duniamu aja. Jadi, abang cuman nyaranin sih, pikir-pikir dulu deh kalo ngomong sama orang tua. Dan emang apa untungnya sih kamu teriak-teriak di depan Balai Sarbini dengan berbagai orasimu. Paling yang nganggep itu keren cuman kamu dan orang-orangmu selebihnya bakal nganggep itu kampungan. Yaudahlah abang mau ke depan dulu, ngobol sama papa” Orion tiba-tiba diam.






“Udah kelar orasinya?”

“Gini deh” aku hanya menghela nafas “ibarat kamu makan sandwich tadi deh, pemerintah ibarat mama, kamu adalah pemesanndan sandwich adalah sebuah negara” sumpah aku semakin tidak mengerti jalan pikiranya “kamu kan nggak bisa makan telur karena alergi akhirnya kamu pasti kalo mesen sandwich cuman daging tanpa telur, padahal sebenernya kata abang sandwich pake telur itu enak banget! Tapi berhubung kondisimu lebih baik kalo tanpa telur akhirnya mama kan membuatkan apa yang terbaik buat kamu, menyesuaikan kondisimu” aku mulai mencerna kata-kata nya “padahal bagi abang lebih baik pakai telur, karena mama tau kalau kamu bakal gatel-gatel kalo makan telur akhirnya mama membuat keputusan untuk tidak memasukan telur ke sandwichmu. Kayak pemerintah, mereka tuh udah tau gimana kondisi negaranya, mau kamu bilang lebih baik kalo ngga direklamasi mereka yang sudah mengerti kondisi negaranya ngga akan menggubris kamu karena pemerintah lebih paham dari kamu” setelah panjang kali lebar Orion berdiplomasi ia keluar kamar dan seketika itu pikiran ku tidak karuan.


Apa semua yang selama ini aku lakukan salah. Tapi bagiku, membela hak-hak orang lain adalah kebenaran mutlak. Dan apa yang selama ini aku lakukan tidak ada yang sia-sia justru setelah aku menyuarakan hak-hak mereka, pemerintah mulai memperhatikan mereka yah meskipun hanya sebagian kecil. Tapi aku tidak pernah memikirkan jika aku di posisi mereka, aku juga tidak pernah berpikir jika posisi papa akan dirugikan dan berimbas pada kami.

Aku tidak ingin berhenti membela hak-hak mereka tapi aku juga merasa bersalah dengan papa. Ah, Orion selalu membuat aku harus berpikir keras. Lebih baik aku tidur. Ya itu adalah jalan terbaik daripada aku harus memikirkan ini sandwich, papa, aku, mama dan pemerintah. Ah sudahlah.


Karya : Bu Dewi Novayanti (Guru IPS)


“Kasih Sayang Adalah Segalanya”

Huuurr………huuurr…….

Brak…….brak…….(bunyi jendela tertiup angin) 

Pada malam hari Roni duduk sendirian dengan perasaan gundah di kamarnya yang gelap. Setiap malam roni mendengar pertengkaran ayah dan ibunya sehingga membuat roni amat sedih dan berdampak pada kepribadiannya. Di sekolah, roni dikenal sebagai anak yang pendiam sehingga dijauhi oleh teman-teman.

Pagi hari Roni bangun tidur dan bersiap untuk berangkat ke sekolah yang diantar oleh ibunya. Setelah sampai di sekolah Roni mencium tangan Ibunya dan melambaikan tangannya.

“Dadah Mama” ucap Roni sambil jalan

Sesampainya di sekolah Roni langsung menuju kelas dan mengambil kursi paling belakang. Ia selalu saja tidak fokus belajar di kelas. Ia selalu jahil, mengganggu dan membuat suasana gaduh di kelas sehingga membuat ia dijauhi oleh teman-temannya karena sikap nakalnya itu. 

Pada hari rabu waktu jam olahraga telah tiba. Pagi itu ibu guru meminta pelajaran olahraga praktik melempar bola di lapangan. Pelajaran olahraga adalah pelajaran favorit Roni. Apalagi jika belajar di lapangan. Sehingga ia sangat antusias dan langsung bergegas menuju lapangan. 

Sesi melempar bola pun di mulai hingga, “duk!!!......suara bola menghantam kepala temannya”. Ia tidak sengaja menendang keras bola sehingga mengenai kepala temannya.  Roni merasa bersalah dan pergi ke pojok taman ia membenturkan kepalanya ke pohon berkali-kali sambil berkata,

“Maafkanaku…maafkan aku… gumam Roni 

Setelah kejadian di lapangan tersebut orang tuanya mengetahui bahwa anaknya terlempar bola sehingga marah-marah pada guru dan langsung pergi dengan nada kesal. Lalu ibu guru mulai mencari keberadaan Roni dengan khawatir. Beliau sesekali menanyakan keberadaanya Roni pada teman-temannya 

“Di mana Roni?”

“Di taman bu” jawab salah satu teman Roni.

Ibu guru langsung bergegas menuju taman melihat Roni sedang membenturkan kepalanya di pohon sambil menangis. Bu guru menarik Roni dan membawanya ke ruang guru.

“Ini minum duluu Roni”

“Baik bu” ucap roni sambil mengusap air matanya

Bu guru tidak tega melihat Roni, lalu menelpon orang tuanya untuk datang ke sekolah. 

Ibu roni langsung datang dan berbincang dengan bu guru untuk menanyakan apa yang terjadi.

“bagaimana ibu guru apa yang terjadi pada Roni?......” (nada khawatir)

Ibu guru menceritakan kejadian yang sebenarnya lalu meminta Roni dan ibunya untuk pulang.

Keesokan harinya Ibu Roni dipanggil oleh sekolah untuk mengkomunikasikan kepribadiaan Roni yang kian hari makin meresahkan. Ibu Roni dan ibu guru berbincang

“Bagaimana ibu, apa yang sebenarnya terjadi dengan anak saya?”

“Roni sebenarnya anak yang baik ibu namun saya bingung kenapa dia sangat tidak fokus belajar”

“Benarkah?” Ibu Roni sangat kaget mendengar hal itu

“Padahal dirumah Roni anak yang rajin, belajar tepat waktu, dan penurut. Tetapi, Roni memang anak yang pendiam ibu…… dia sering menyendiri di kamar.”

“Apakah ayah roni tidak pernah bermain dengan Roni bu?”

“Semua urusan rumah tangga dan anak, saya sendiri yang kerjakan ibu. Karena ayahnya sibuk bekerja.”

“Apakah itu yang mempengaruhi sikap Roni ibu” tanya Ibu Roni.

“Bisa jadi bu” jawab ibu guru.

“Kadang-kadang saya juga bertengkar dengan ayah Roni di depan roni dan sepertinya itu membuat ia murung” jawab Ibu Roni.

“Sebaiknya diskusikan pada ayah Roni mengenai sikapnya pada Roni, sehingga dapat menyelesaikan permasalahan” saran ibu guru.

“Baik ibu”

Perbincangan tersebut berisikan solusi, bagaimana mendidik anak dengan baik dengan memberikan motivasi belajar, lingkungan yang mendukung dan kasih sayang dari orang tuanya. Ibu Roni berterima kasih kepada bu guru. Kemudian Ibu Roni bergegas pulang dan menunggu ayah Roni sepulang kerja untuk mendiskusikan sikap Roni. 

Setelah Roni tertidur, Ibu Roni berbicara hangat dengan ayah Roni. Ia menceritakan Roni bagaimana di sekolah, Roni menjadi anak yang kurang baik. Setelah mendengar penjelasan dari Ibu Roni, ayah Roni menjadi sedih. Ia sangat bersalah menjadi seorang ayah. Setelah berbincang-bincang tentang hal tersebut, orang tua Roni mencari solusi agar anaknya menjadi anak baik seperti anak yang lainnya. 

Bertepatan dengan minggu depan Roni ulang tahun, orang tua Roni ingin memberi kejutan kepada anaknya. Mereka ingin merayakan ulang tahun Roni di sekolah bersama teman-temannya. Dengan membawakan kue kesukaan Roni, balon-balon, dan topi ulang tahun. 

Pada hari ulang tahun Roni, dia tiba-tiba teringat hari ulang tahunnya. Namun ia merasa sedih karna orang tuanya tidak mengucapkan selamat ulang tahun. 

Setelah sampai di sekolah, 

“Haaaaaaa………” Roni terkejut 

Orang tua dan teman-temannya berkumpul dan memakai topi ulang tahun serta ada kue ulang tahun yang lezat dan dinding dihiasi balon ulang tahun. Mereka serentak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Roni. Kemudian Roni memotong kue dan berfoto bersama untuk mengabadikan momen. Kasih sayang dari orang tua dan lingkungan sangat penting dalam tumbuh kembang anak. 


Karya Cindy Jualiani (8E)

 


Kamis, 25 November 2021

Jilbab Rumi

 Menjadi orang tua tunggal bukanlah kehidupan yang mudah bagi Bu Mirah. Membanting tulang siang malam untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya. Rumi, anak semata wayang Bu Mirah, sama seperti gadis remaja pada umumnya. Gadis yang banyak maunya yang sesekali memberontak saat diperintah. 

“Bu’e cerewet, banyak aturan!” kata Rumi ketus.

Bu Mirah menarik nafas dalam dan tetap fokus mengendalikan gas yang ada di tangan kanannya. 

“Bu’e nggak bisa melarangku untuk bersahabat dengan siapa saja. Orang tua teman-temanku tidak ada yang sekejam Bu’e.” 

Bukan seperti itu maksud Bu Mirah. Dia hanya terlalu khawatir jika Rumi salah bergaul. Itu saja. Rumi selalu saja memprotes peraturan ibunya.

Kerete api lewat.

Bu Mirah membuka kaca helmnya, menengok Rumi yang tampak membuang muka. Ah, Rumi benar-benar sudah berubah. Mungkin Bu Mirah terlalu keras membuat peraturan untuk anaknya. Ini semua dilakukan demi kebaikan anak gadisnya. 

“Maju Huoii!” tiba-tiba tersengar suara teriakan dari belakang. 

Dia tersentak dan kembali memutar pelan gas. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Rumi masih melempar muka. Sibuk menekan tombol-tombol handphone.

“Nanti Rumi mau cari buku di belakang Sriwedari, Bu’e. Jadi pulangnya agak sore.”

“Cari buku?” 

Setahu Bu Mirah, buku pelajaran Rumi sudah lengkap bahkan sampai tak muat di rak buku kamar. Hampir setiap bulan Bu Mirah mengajak Rumi ke toko buku. Entah sekedar membaca buku atau membeli komik kesukaannya. Semua buku pelajaran pun sudah dimilikinya termasuk buku pendamping yang dibeli di awal semester kemarin.

“Bu’e selalu seperti itu! Sedikit-sedikit nggak percaya. Sedikit-sedikit ditanya. Aku juga pengin seperti teman-teman. Jalan-jalan. Beli buku sama teman-teman. Nggak kemana-mana sama Bu’e terus!”

Kembali Rumi salah menangkap maksud ibunya. Bu Mirah menarik nafas dalam.

“Nggak sama teman laki-laki kan?”

Sepertinya Bu Mirah salah bertanya. Rumi langsung memonyongkan bibirnya. Membentuk huruf O kapital.

“Bu’e! Aku pergi sama teman laki-laki juga nggak ngapa-ngapain! Aku bisa jaga diri. Bu’e jangan memperlakukanku seperti anak kecil.” suara itu semakin meninggi.

“Maksud Bu’e bukan begitu sayang.” Bu Mirah berusaha meredam kemarahan anaknya. Menata kembali jilbab Rumi yang sedikit bergeser karena tarikan otot-otot di wajahnya.

Tak lama tangan mungil itu langsung melempar tangan Bu Mirah. 

“Aku malu Bu’e!” Rumi berlari masuk ke dalam sekolah.

Ada kekecewaan di wajah Bu Mirah. Gadis kesayangannya kembali membantah. Dia kembali melajukan sepeda motornya ke jalan Slamet Riadi.


.....


Dari tadi Bu Mirah memandangi jam dinding di ruko kecil kawasan PGS. Cemas. Jarum jam sudah menuju angka empat dan Rumi sama sekali belum mengabarinya. Sedari tadi dia tak konsentasi melayani para pengunjung yang datang melihat barang dagangannya. Pembeli minta dicarikan dress batik warna coklat tapi dibawakannya warna biru. Bahkan, beberapa pengunjung mengumpat karena merasa tak dilayani dengan baik. Bu Mirah lebih banyak melamun dan tak mencermati perkataan pembeli.

Rumi mungkin masih ngambek dengan peristiwa tadi pagi. Bu Mirah sudah berusaha menelepon Rumi, tapi tak diangkat. Apa Rumi masih sibuk memilih buku? Ah, nggak mungkin selama itu. Pikirannya  semakin ngelantur kemana-mana. Bu Mirah memutuskan untuk menyusul Rumi ke Sriwedari. Belum sempat menekan tombol starter, panggilan dari Rumi masuk.

“Bu’e .... Bu’e ....” suara Rumi bergetar di seberang sana. 

“Rumi kamu kenapa?” Bu Mirah panik. Ada apa dengan Rumi? Pikirannya kemana-kemana takut terjadi sesuatu dengan anaknya. “Kamu di mana, Nak?”

“Bu’e…, jemput Rumi di belakang taman Sriwedari,” suara itu semakin pelan.

Bu Mirah seketika menutup telepon. Melajukan motor dengan cepat.


....


Di depan deretan penjual buku, ada sekelompok orang berkerumun. Bu Mirah langsung menghentikan motornya tepat di depan kerumunan itu. Menyusup ke dalamnya. Dan benar, ada Rumi yang terlihat kesakitan. Tampak ada luka di tangannya. Bu Mirah merangkul anaknya dan memastikan kalau semuanya baik-baik saja.

Perempuan paruh baya itu sekilas menatap ke seorang pemuda berseragam sama dengan Rumi. Pemuda berkulit sawo matang itu berusaha memegang tangan Rumi. Tangan Bu Mirah dengan sigap menyingkirkan tangan pemuda itu. 

“Bu’e ..., dia. ...” Rumi berusaha menjelaskan namun terhenti. 

Bu Mirah menatap sekilas wajah pemuda itu. Ada luka memar di sana namun Bu Mirah tak peduli. Hanya kelamatan anakknya yang penting.

“Rumi kenapa ndak mendengarkan kata-kata Bu’e? Begini jadinya kalau ndak nurut!” Bu Mirah tanpa kesal. Dirabanya kepala Rumi. Ada yang hilang.

“Mana jibabmu, Nak?”

Rumi merunduk. “Ada di tas, Bu’e” 

Bu Mirah langsung membuka tas Rumi dan mengenakan jilbab ke wajah mungil itu.

“Ayo, pulang!” 

....

Bu Mirah mengunyah nasi goreng yang terasa hambar di lidah. Sesekali meneguk air sambil menatap Rumi yang memainkan sendok sedari tadi. Ada tembok penghalang antara ibu dan anak itu. 

“Tadi beli buku apa saja, Nak?” Bu Mirah berusaha mencairkan suasana.

“Kamus,” jawabnya singkat. 

“Bu’e ...” Rumi tak berani menatap wajah ibunya, ia menyadari kesalahanya sore tadi, “Maafkan aku, Bu’e.” 

Ada sesal mendalam di hati Rumi. Seandainya ia menuruti nasihat ibu pasti kejadian sore tadi tak akan ada.

Bu Mirah memejamkan mata. Mengatur kata-kata agar tak salah melontarkan kalimat.

“Rumi sayang ndak dengan Bu’e?”

“Kenapa Bu’e bertanya seperti itu?”

“Rumi, kenapa kamu pergi sama teman laki-laki?”

Seketika penyesalan Rumi hilang. Rumi tak suka mendengar pertanyaan itu. “Hah?”

“Bu’e kan pernah bilang, kamu boleh berteman dengan siapapun kecuali pada anak laki-laki. Apalagi laki-laki itu, berandalan.”

Mata Rumi terbelalak mendengar kata-kata ibunya barusan, “Bu’e, Aryalah yang membantuku saat segerombolan pemuda nakal menggodaku! Arya bukan anak berandalan seperti yang Bu’e pikir!”

Bu Mirah terdiam.

“Bu’e ndak ingin kamu salah pergaulan. Sekarang lihat, kamu sudah berani melepas jilbabmu! Dia kan yang mengajarimu!” Bu Mirah tak bisa menahan hati untuk menegur anaknya. “Rumi, teman yang baik tak akan membiarkanmu terjerumus seperti itu!”

“Rumi lepas jilbab nggak ada hubungannya sama Arya. Ini pilihan Rumi!”

Tiba-tiba tenggorokan Bu Mirah terasa kering, diteguknya kembali segelas air putih. 

Rumi kembali tertunduk dan lebih lama dari yang tadi. Sampai akhirnya Rumi berkata, “Teman-teman Rumi nggak ada yang mau dekat-dekat dengan Rumi. Ini karena jilbab itu. Cuma Arya yang mau berteman dengan Rumi. Teman-teman Rumi sering mengejek Rumi dengan panggilan Bu Nyai. Rumi malu Bu’e. Malu!” Air mata Rumi tiba-tiba meleleh.

“Tidak hanya itu, mereka juga sering mengejekku anak mami. Kemana-mana selalu sama Bu’e. Aku juga pengin seperti mereka. Pergi bareng sama teman-teman. Bebas bergaul dengan siapa saja. Nggak seperti Bu’e yang membatasi pergaulanku.” 

Bu Mirah ingin sekali menenangkan putrinya namun tak bisa dia lakukan.

“Bu’e selalu menyuruhku untuk tidak membeda-bedakan teman tapi Bu’e sendiri yang membatasi pergaulanku. Aku juga butuh seorang pelindung, Bu’e. Bukan orang yang selalu mengekakangku.” Rumi langsung berlari menuju kamarnya.

Bu Mirah diam seketika. Memikirkan kata-kata yang dilontarkan Rumi.


....


Biasanya Hari Minggu Rumi membereskan kamar seusai sarapan, dan ikut ibunya ke PGS untuk berjualan batik solo. Matahari semakin meninggi namun Rumi belum juga keluar dari kamar. Bu Mirah mengetuk pintu kamar Rumi berkali-kali. Tak ada jawaban. Kamar itu kosong. Tak ada Rumi di sana.

Ada sebuah pesan singkat di atas meja belajar. 


Bu’e, Rumi pergi ke rumah Arya. 

Maaf, Rumi nggak berani izin langsung.


Bu Mirah kecewa membaca isi pesan itu. Kenapa Rumi bisa senekad itu? Keluar rumah tanpa izin. Dia berniat untuk menelepon Arya. Namun diurungkan karena dia baru sadar kalau tak memiliki satu kontak pun teman Rumi, termasuk Arya.

Bu Mirah terduduk di atas kasur. Seketika kepalanya pusing, frustasi. Ia tak ingin anaknya menjadi seorang gadis brutal sama seperti dirinya, dulu. Yang selalu menentang segala peraturan ibunya. Ibu yang sebenarnya sangat menyayanginya.

Tak lama kemudian handphone berdering. Bu Mirah langsung melihat nama pemanggil. Seketika pula bongkahan es di kepalanya meleleh. Rumi.

“Kamu di mana Rumi?”

“Maaf Bu, saya bukan Rumi. Rumi saat ini sedang kesakitan di depan saya. Tadi ada orang yang mengganggunya. Sekarang dia ada di depan Terminal Tirtonadi.”

Deg. Sepertinya dia kenal dengan suara itu. Tak lama kemudian Bu Mirah langsung tersadar dan bergegas menyusul Rumi.

Sepanjang jalan hati Bu Mirah tak tenang, pikirannya melayang, dan hampir saja menabrak sebuah motor yang berbelok dari arah depan. Untung saja dia tersadar saat bunyi klakson meneriakinya. 

Bu Mirah mendekati gadis kecil yang tampak ketakutan. Ia duduk sambil merangkul kedua kakinya. Ada luka kecil di pergelangan tangannya. Hampir sama seperti tempo hari.

“Maafkan Rumi Bu’e. Rumi salah, telah mengecewakan Bu’e lagi. Ini semua terjadi karena Rumi tak mendengarkan perintah Bu’e. Seandainya saja, Rumi mengenakan jilbab itu.” Tangan mungil itu melingkar erat di tubuh Bu Mirah. 

Bu Mirah hanya terdiam mendengarkan suara gadis mungilnya sambil mengamati tubuh Rumi dan memastikan semuanya baik-baik saja.

“Untung tadi ada bapaknya Arya yang menolong Rumi.”

Tangan perempuan paroh baya itu menghapus buliran air mata yang menetes di pipi anaknya. Lalu membelai dengan lembut rambut Rumi.  “Dikenakan dulu jilbabnya, sayang.”

Rumi membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah jilbab pink. Jilbab yang senada dengan kaos yang dikenakannya.

Dengan sabar Bu Mirah menata jilbab Rumi, “Nah, gitu cantik pakai jilbab.” 

Tampak semburat senyum di wajah Rumi setelah mendengar kata-kata ibunya.

“Rumi janji Bu’e. Rumi akan nurut sama Bu’e. Ndak akan lepas lagi jilbab ini.”

Bu Mirah kembali memeluk tubuh mungil anaknya sambil mengecup keningnya.


Tak berapa lama laki-laki betubuh jangkung dengan sebuah kaca mata putih tebal yang melekat di mata, muncul dari belakang dengan membawa dua buah jus di tangannya. Langkahnya terhenti. Wajahnya pucat seketika. Begitu pula dengan Bu Mirah, wajahnya membeku seolah tak percaya dengan sosok lelaki yang ada di hadapannya. Itu Mas Rian, ayah kandung Rumi yang menghilang tanpa kabar sejak 14 tahun yang lalu.

“Mas Rian?” Bu Mirah masih tak percaya dengan sosok yang dilihatnya.

“Mirah Pawestri,” ucapnya datar, “Maaf.” wajah itu tertunduk.

“Yah,” sapa seorang pemuda kepada Mas Rian. Pemuda itu adalah teman Rumi yang tempo hari pergi bersamanya membeli buku.

Bu Mirah dan Ayah Arya tak berani menatap muka. Keduanya tertunduk diam.

“Terima kasih, sudah menolong anakku.” ucap Bu Mirah sambil bergegas mengajak Rumi bangkit meninggalkan mereka. 

Ada tanda tanya besar di kepala Rumi. Namun ia tak berani menerka. Sekali ia menoleh ke arah lelaki itu. Semburat mendung bergelayut di wajah lelaki paroh baya itu.




Karya : Bu Yuni'ah



" Ratu Elsa yang tak percaya diri "

Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang megah bernama "Roses Kingdom". Di istana tersebut ada dua ratu yaitu Ratu Elsa dan Ratu Orchid. Mereka berdua selalu rukun dan tidak pernah ada suatu pertengkaran. Pada suatu hari Ratu Elsa mengajak Ratu Orchid untuk berpergian keluar kerajaan.

“Ayo kita pergi keluar kerajaan” ajak Ratu Elsa

“Yuk aku sangat bosan Ratu Elsa berada di kerajaan yang selalu dikelilingi penjaga” kata Ratu Orchid.

Akhirnya mereka berdua meminta izin ke ayahnya yaitu Raja Harry.

“Ayah kita berdua ingin pergi keluar kerajaan tanpa ada penjaga yang mengawasi kita " kata Ratu Elsa dan Ratu Orchid.

“Tidak, akan kuizinkan kalian keluar selama kalian tidak diawasi oleh penjaga” kata Raja Harry.


Akhirnya Ratu Elsa dan Ratu Orchid benar-benar memohon dan memberikan beberapa alasan kepada ayahnya agar bisa pergi keluar kerajaan tanpa ada penjaga dan akhirnya ayahnya pun mengizinkan.

“Baiklah akan kuizinkan kalian pergi keluar kerajaan tetapi ada satu syarat yang harus kalian tepati kalian harus kembali pada pukul 8 malam tepat” kata Raja Harry.

“Baiklah ayah akan kutepati syarat tersebut” jawab Ratu elsa dan Ratu orchid.

Akhirnya mereka pun pergi dengan berjalan kaki tanpa penjaga yang mengikutinya.




Padahal sebenarnya Ratu Elsa sangatlah iri dengan Ratu Orchid dikarenakan Ratu Orchid sangatlah cantik, putih, tinggi dan lebih-selebihnya dari pada Ratu Elsa. Dalam perjalanan Ratu Elsa hanyalah merenung melihat kecantikan Ratu Orchid. Ratu Orchid pun bertanya

“Ratu Elsa apakah kamu baik-baik saja ?”

Tetapi Elsa tidak mau menjawab pertanyaan tersebut

Setelah Ratu Orchid bertanya kepada Ratu Elsa berkali-kali jawaban Ratu Elsa hanyalah diam. Ratu Elsa hanya membatalkan untuk pergi ke tempat yang lainnya. Ratu Orchid pun hanya bisa menuruti Ratu Elsa.

Pada saat sampai di kerajaan Ratu Elsa langsung berlari sekencang-kencangnya menuju kamar. Sesampainya di kamar Ratu Elsa menangis sendirian. Ratu Elsa hanya mengucapkan

“Mengapa aku tidak secantik Ratu Orchid “

Ratu Elsa berada di kamar selama 1 bulan tidak mau makan dan minum. Hingga suatu ketika Ratu Elsa berpenampilan berbeda dari biasanya. Menggenakan jubah yang sangat menutupi badannya. Ratu Orchid segera memeluk Ratu Elsa dan bertanya.

“Aku tahu kau tidak baik-baik saja Ratu Elsa” kata ratu Orchid

Ratu Orchid membawa Ratu Elsa ke taman untuk berbicara berdua sambil memakan apel.

“Ceritakan apa saja yang kau alami sekarang” tanya Ratu Orchid

“Aku sangat iri padamu, kau bisa lebih dari aku itu membuat selama ini aku tidak percaya diri” jawab Ratu Elsa 

“Apakah itu saja yang membuat kamu tidak merasa percaya diri?” Tanya kembali Ratu Orchid

“Iya Orchid hanya itu saja” jawab sederhana Ratu Elsa

“Ratu Elsa kita semua sempurna, jelek atau cantik tidak bisa dilihat dari fisik saja tetapi hatinya juga, kita juga harus percaya diri dengan apa yang kita miliki sekarang, aku percaya kamu akan bisa melewati ini Ratu Elsa” kata Ratu Orchid sambil memeluk Ratu Elsa.

“Terimakasih saudaraku Orchid kau seperti mama kita selalu menasehati aku dengan tepat, selama ini aku salah aku iri padamu dan aku tidak percaya diri” Ratu Elsa.

“Jadi jangan bahas itu lagi ya lagian kamu sangat cantik kok banyak sekali orang yang bilang secara jauh jauh bahwa kau cantik” Ratu Orchid.


Pada akhirnya Ratu Elsa selalu percaya diri dan rukun dengan Ratu Orchid tanpa ada rasa iri dan tidak percaya diri semua masalah ditanggung mereka berdua .


TAMAT


AMANAT : Kita harus selalu percaya diri di manapun dan kapanpun itu, kita wanita dan kita sangat cantik.